SEJARAH BERDIRINYA TUGU KHATULISTIWA






                      SEJARAH BERDIRINYA TUGU KHATULISTIWA
 


Tugu Khatulistiwa terletak di Siantan, Pontianak Utara. Tugu Khatulistiwa Pontianak di bangun pada tanggal 31 maret tahun 1928 oleh Tim Ekspedisi Geografi Internasional yang di pimpin oleh seorang ahli Geografi berkebangsaan Belanda, yang dilakukan secara Astronomi. Tugu yang hanya berjarak lima kilometer dari pusat kota menuju arah Singkawang ini terlihat jelas. Sebagai simbol bahwa Pontianak di lintasi oleh satu garis yang membelah bumi menjadi dua bagian dan kota pontianak salah satu kota yang di lintasi oleh satu garis bujur itu atau garis khatulistiwa. Dalam pelajaran geografi, Bumi diibaratkan dibagi menjadi dua bagian, yakni belahan utara dan belahan selatan. Dari pembagian itu, dapat dikatakan Kota Pontianak berada persis di tengah-tengah garis imajiner tersebut.

          ISTIMEWA. Itulah barang kali kata yang tepat untuk menyebut Kota Pontianak, ibu kota Provinsi Kalimantan Barat. Dikatakan istimewa, karena kota ini hanyalah salah satu dari beberapa daerah di dunia yang dilewati garis khayal khatulistiwa atau ekuator. Untuk menandainya dibangunlah Tugu Khatulistiwa atau Equator Monument pada garis lintang nol derajat yang terletak di Siantan, sekitar tiga kilometer dari pusat Kota Pontianak ke arah Kecamatan Sungai Pinyuh, Kabupaten Pontianak.
Selama ini, titik 0 derajat yg dilewati garis Khatulistiwa hanya ada di Pontianak, Kalimantan Barat. Namun, mulai 2014, akan ada empat titik baru yang tersebar dari bagian timur hingga barat Indonesia. Sebelumnya, pada Mei 2014 Roy juga meresmikan Tugu  Khatulistiwa di Pulau Kawe, Kepulauan Raja Ampat, Papua Barat. Sedangkan berikutnya, akan tugu yang sama akan diresmikan di Parigi Moutong, Sulawesi Tengah, Pontianak, dan berakhir di Bonjol, Sumatera Barat. Berdasarkan prasasti di dalam kompleks Tugu Khatulistiwa, dikisahkan pada 31 Maret 1928 satu ekspedisi internasional yang dipimpin ahli geografi berkebangsaan Belanda datang ke Pontianak untuk menentukan titik khatulistiwa.

          Pada tahun itu juga dibangun tugu pertama berbentuk tonggak tanda panah kemudian disempurnakan pada tahun 1930. Setelah itu, arsitek Silaban (1938) menyempurnakan dan membangun tugu yang baru dengan empat tonggak kayu belian menopang lingkaran dengan anak panah penunjuk arah setinggi sekitar 4,40 meter.

          Baru kemudian, pada tahun 1990, tugu direnovasi dengan pembuatan kubah untuk melindungi tugu yang asli. Di atas kubah dibuatlah duplikat tugu berukuran lima kali lebih besar dibandingkan dengan tugu yang aslinya. Peresmian dilakukan 21 September 1991 meski, setelah diukur kembali pada Maret 2005 dengan alat global positioning system (GPS), titik lintang nol derajat ternyata berada sekitar 117 meter ke arah Sungai Kapuas, dari tugu yang sekarang berdiri.
Bangunan itu terdiri dari empat buah tonggak atau tiang dari kayu belian atau kayu ulin (kayu langka khas Kalimantan). Masing-masing tonggak berdiameter 0,30 meter. Dua tonggak bagian depan tingginya 3,05 meter dari permukaan tanah, sedangkan dua tonggak bagian belakang, tempat lingkaran dan anak panah penunjuk arah, tingginya 4,40 meter.
Adapun diameter lingkaran yang bertuliskan “EUENAAR” 2,11 meter. Panjang panah yang menunjuk arah lingkaran ekuator adalah 2,15 meter. Di bawah panah terdapat tulisan “109 derajat 20’0″OlvG” yang menunjukkan letak tugu itu berdiri pada garis bujur timur. Setiap terjadi titik kulminasi, bayangan tugu dan benda-benda lain di sekitarnya menghilang beberapa saat. Ini menandakan bahwa tugu ini benar-benar berada di garis lintang nol derajat.
          Peristiwa yang paling menakjubkan di sekitar Tugu Khatulistiwa adalah saat terjadi kulminasi, yakni Matahari tepat berada di garis khatulistiwa. Pada saat itu bayangan tugu “menghilang” beberapa detik, meskipun diterpa sinar Matahari. Kita yang berdiri di sekitar tugu juga akan hilang bayangannya selama beberapa saat.

          Titik kulminasi Matahari itu terjadi setahun dua kali, yakni antara tanggal 21-23 Maret dan 21-23 September. Bagi masyarakat Kalbar, peristiwa alam ini menjadi tontonan menarik sehingga menjelang kulminasi Matahari. Kini tugu itu sudah berusia 75 tahun. Selama kurun waktu itulah Kota Pontianak menjadi salah satu kota yang terkenal di dunia sebagai kota khatulistiwa. Daya tarik tugu tidak terletak pada sisi komersialnya, tetapi justru pada upaya penataan agar serasi dengan alam dan kelestarian Sungai Kapuas. Tugu Khatulistiwa dan Sungai Kapuas adalah ikon pariwisata Kalimantan Barat.



http://fahrikha.blogspot.co.id/2014/05/sejarah-tugu-khatulistiwa-pontianak.html




Komentar

Postingan populer dari blog ini

“ ASAL USUL TAMAN MAKAM BATU LAYANG PONTIANAK UTARA “

Permasalahan yang timbul akibat dari perkembangan IPTEK dalam bidang Pendidikan

Kedudukan Bahasa Indonesia dan Peran Bahasa dalam Pembangunan Bangsa